CEO EXCHANGE

MARDEKA

Graduate Student of MB-IPB Class of E40

Marketing Class Notes:

CEO Exchange : Anne M. Mulcahy (Xerox Corp.) and Neville Isdell (Coca Cola Co.)

Friday, April 20, 2012

Lecturer Prof Dr Ir Ujang Sumarwan, Msc

http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id/

 

 

Kuliah Manajemen Pemasaran yang dilaksanakan pada hari Jumat, 20 April 2012, dengan dosen      Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M, Sc. , menampilkan program video “CEO Exchange” yang sangat inspiratif yang merupakan acara forum bisnis yang diselenggarakan oleh suatu TV Production, dimana program ini merupakan suatu forum bisnis yang menghadirkan para CEO yang sangat inspiratif di bidangnya masing-masing. Program CEO Exchange ini dipandu oleh Jeff Greenfield, seorang penulis dan juga  jurnalis senior Amerika. Program CEO Exchange kali ini menampilkan dua orang CEO luar biasa, dimana perusahaan yang mereka pimpin menjadi “market leader” dibidangnya masing-masing.

 

Video pertama menampilkan Anne M. Mulcahy yang merupakan CEO Xerox Coorporation, sebuah perusahaan fotokopi pertama yang didisikan di dunia. Awal karir strategik Mulcahy adalah Vice President di Department Sumber Daya Manusia, beliau bertanggung jawab untuk pengembangan manajemen dan pelatihan karyawan. Dengan prestasinya yang luar biasa pada tahun 2001 Dewan Direksi memilihnya untuk menjadi CEO Xerox, diawal kepemimpinannya dia menyadari bahwa perusahaan perlu melakukan efisiensi oleh karena itu Mulcahy mengambil keputusan yang sangat kontroversial dengan mengurangi jumlah tenaga kerja sampai 30% serta menghilangkan divisi desktop, nyatanya keputusan tersebut tepat, hal ini terbukti dengan menguatnya harga saham Xerox dari $ 8,25 menjadi $ 10,05.

 

Hal yang inspiratif dari Anne M. Mulcahy sebagai CEO Xerox:

  1. Awal karir beliau adalah sebagai Vice President di Divisi sumber daya manusia sehingga beliau paham betul betapa pentingnya sumber daya manusia. SDM yang berkualitas merupakan asset yang sangat berharga, karena ditangan merekalah maju mundurnya perusahaan. Mulcahy juga sangat dekat dengan karywannya dia tak segan untuk turun langsung ke lapangan mengontrol dan member contoh kepada para karyawannya.
  2. Keputusan untuk menghilangkan divisi desktop awalnya banyak yang meragukan, namun ternyata belakangan diakui bahwa keputusan yang diambil Mulcahy sangat tepat, ditengah persaingan yang sangat ketat perusahaan perlu melakukan fokus dalam menjalankan bisnis, dengan mempersempit lingkup, konsentrasi perusahaan dalam berinovasi dapat lebih fokus.

 

Video Kedua menampilkan Neville Isdell sebagai CEO dari sebuah perusahaan raksasa, yaitu Coca Cola, merupakan perusahaan minuman terbesar di dunia. Awal bergabung dengan Coca Cola tahun 1966, kemudian tahun 1972 Isdell menjadi General Manager Coca Cola Bottling di Afrika. Berkat prestasinya yang gemilang serta inovasi-inovasi yang dilakukannya karirnya terus menanjak, hingga puncaknya pada tahun 2004 Isdell menjabat sebagai Ketua Dewan CEO Coca Cola, Isdell juga merupakan Ketua Dewan Pengawas dari International Business Leader Forum (IBLF). Kini Coca Cola merupakan produk minuman terbesar yang distribusinya hampir ke seluruh dunia.

 

 

Hal yang inspiratif dari Neville Isdell sebagai CEO Coca Cola:

Neville Isdell banyak melakukan inovasi dengan melakukan diversifikasi produk, selain produk dengan kandungan karbonasi, Coca Cola juga mulai merambah ke varian Jus. Hal ini dilakukan karena mendapat tekanan yang cukup kuat dari kompetitornya yaitu Pepsi yang dengan agresif mulai mengancam posisi Coca Cola sebagi market leader. Beberapa varian yang menjadi inovasi dari Coca Cola adalah:

–       New Coke (Baru)

–       Diet Coke (Tanpa gula)

–       Coca-Cola C2

–       Coca-Cola Zero (Penuh rasa, tanpa gula)

–       Cherry Coke (Rasa buah ceri)

–       Vanilla Coke (Rasa vanilli)

–       Coca-Cola with Lime (Jeruk nipis)

–       Raspberry Coke (Rasa frambus)

 

Brand Image Coca Cola sudah sangat melekat di benak para konsumen, namun tidak berhenti sampai disana, hingga saat ini Coca Cola terus melakukan kegiatan-kegiatan social untuk menjaga brand image nya di mata para konsumen.

Ketika Coca Cola dalam kondisi yang stagnan, dan Neville Isdel diberikan target oleh BOC Coca Cola untuk merubah Coca Cola dan mengatasi ancaman competitorutamanya yaitu Pepsi. Co yang sangat agresif melebarkan lini bisnisnya bukan hanya bisnis aslinya yaitu beverage tapi juga mulai masuk ke snack dibawah bendera Fritolay. Ketika dia kembali, dia benar-benar belajar dari siapapun, merendahkan hatinya untuk mendengarkan pendapat dari bawahannya, bisnis partner, dan customer Coca Cola. Hal ini dilakukan untuk selalu mengupdate pengetahuannya dan memperbaiki Coca Cola sesuai dengan perubahan needs and wants dari customernya. Setiap orang pasti tidak suka dengan kabar buruk, begitu juga dengan Neville Isdell, tapi yang paling dia tidak sukai adalah terlambat menerima kabar tersebut, yang artinya terlambat dalam mengambil tindakan untuk mengatasi hal tersebut.}